Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS

Jejak Yahudi di Indonesia

Hampir-hampir kita tidak pernah mendengar atau mengetahui keberadaan bangsa yahudi di Tanah air tercinta. Tapi mereka memang ada. Meski hanya beberapa orang diantara ratusan juta penduduk Indonesia. Mereka punya komunitas sendiri di kota Surabaya, Manado dan Jakarta. Kedatangan Bangsa Yahudi di Indonesia terjadi sejah awal kedatangan bangsa Barat. Kebanyakan merupakanYahudi Sefardim dan beberapa yang Yahudi Ashkenazi dan Yahudi Mizrahim.


Sinagog di Surabaya
Lokasinya di Jl. Kayun nomor 4-6, Surabaya, luasnya sekitar 2,000 meter persegi, lokasinya dekat dengan  Kali Mas.  Berdirinya sudah lama banget, dan nyaris tidak dipakai.  Pewarisnya, Abraham Zahavi, yang keturunan Yahudi Irak. Bangunan tua berarsitektur Belanda itu memang tampak mencolok dibanding bangunan sekitarnya yang berupa areal pertokoan. Bangunan berbentuk rumah dengan tembok tinggi dan daun jendela lebar seukuran pintu rumah biasa itu memang tampak selalu terkunci rapat. Warna putih mendominasi sekeliling dinding dan seluruh bangunan seluas kurang lebih 10 x 30 meter persegi itu. Walau cat putihnya seperti baru, toh itu tidak menghilangkan kesan antik yang muncul dari wujud bangunan secara keseluruhan.
Pintu masuk utama gedung terbuat dari kayu kuno berwarna cokelat tua dengan tulisan bahasa Ibrani di palang kayu penghias pintu bagian depan. Dua Bintang David, lambang Zionis-Yahudi tampak mencolok pada bagian atas pintu dengan warna senada dengan pintu. Dari kejauhan orang tak akan dapat melihat secara jelas kedua Bintang David yang berdiameter kira-kira 10-15 cm itu. Penduduk sekitar dan orang-orang tertentu yang tahu tentang Yahudi, tidak akan menyangkal bahwa itu adalah Sinagog. Halaman depan gedung dipenuhi rerumputan lebat dan tebal menandakan bahwa ia terawat dengan baik.
Di sebelah kiri bangunan utama terdapat sebuah rumah kecil yang juga berarsitektur Belanda, dihuni oleh keluarga Yahudi. Anehnya, rumah mungil ini bernomor 6, padahal masih terletak dalam satu areal dengan bangunan di sebelahnya. Penghuni rumah yang berjumlah tiga orang itu enggan menyebut dirinya kaum Yahudi dan mengaku sebagai keturunan Arab. Tidak selamanya Sinagog itu tertutup rapat dan tak berfungsi. Terkadang ketika terdapat hari-hari besar Yahudi seperti hari Sabbath (Sabtu Agung), gedung itu dipenuhi oleh beberapa orang yang hadir mengikuti suatu acara peribadatan. Kerap terdengar alunan-alunan lagu yang mirip dengan ibadah kaum Nasrani, namun dengan volume suara yang lebih rendah.

Makam Yahudi  TPU Petamburan
 Sebuah makam yahudi tak terusus di TPU Petamburan.















Salah satu makam Yahudi, khas berbentuk sarkopagus yang meruncing di atas. 









Komunitas Yahudi di Manado 
Saat ini diperkirakan ada sekitar 500 orang pengikut Yahudi di Sulawesi Utara. Mereka tidak tinggal di kawasan tertentu atau berkumpul dalam sebuah perumahan. Mereka tinggal terpisah dan berbaur dengan masyarakat umum lainnya. Mereka hanya berkumpul setiap ada perayaan hari raya. Komunitas Yahudi Manando adalah sisa-sisa dari kolonial Belanda. Meski tinggal di tengah-tengah komunitas Kristiani, mereka tetap melestarikan agama nenek moyang mereka. Mereka belajar beribadah lewat internet. Kitab Taurat mereka download dari internet dan panduan ibadah mereka tonton di Youtube. Karena agama Yahudi tidak di akui sebagai agama resmi di Indonesia, maka mereka mencantumkan agama lain pada KTP mereka. Begitupun saat menikah, tidak dengan tatacara yahudi, melainkan dengan tatacara sesuai agama di KTP agar mendapat pengakuan dari pemerintah. 
Para anggota komunitas Yahudi sedang berupaya agar Yahudi diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Selain itu, dia meminta agama Yahudi menjadi salah satu pilihan kolom agama di KTP. Mereka sudah menyewa pengacara untuk mengusahakannya, baik lewat jalur hukum formal maupun lobi-lobi.

Rabbi yaakov baruch, satu-satunya Rabbi Yahudi di Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Reader yang baik selalu memberi feedback :)